Pesantren dan Musik Dakwah (Ahmad Taufiq)

Oleh: Ahmad Taufiq (Pimpinan Umum Majalah Qalam, Redaktur Majalah Gontor, Dosen di beberapa universitas di Jakarta, mantan pemain marching band dan aktivis musik)

Modernisasi sepertinya telah rebak hingga ke pelosok desa. Tak terhindarkan dan harus dihadapi siapapun yang hidup di era ini agar tak tertinggal gerbong peradaban. Modernisasi yang salah satu warna kentalnya diiringi westernisasi, kini juga telah rangsek hingga pelosok pesantren. Musik modern (baca: Barat), dulunya sempat begitu antipati ditentang. Namun kini, salah satu perangkat akulturisasi itu malah dipakai benyak pesantren -wadah yang oleh banyak orang dianggap terkonservatif dalam sistem “peradaban” Indonesia- itu.

Marching Band, Drum Band, Drum Corps dan unit band-band bergerak lainnya, sangat marak dan binger di lingkungan pesantren. Bukan hanya pesantren “modern”, tapi merasuki juga pesantren “tradisional”.

Seorang kawan pernah bercerita. Suatu ketika KH Andrian, kiai muda Pimpinan Pondok Pesantren La Tansa Lebak, ditanya mengapa ia mendukung keberadaan marching band di pondok asuhannya. Padahal, putra alm KH Ahmad Rifa’i Arief, pendiri Pondok Pesantren Daar El-Qolam, Gintung Tangerang itu, secara empirik tak pernah bersentuhan langsung dengan dunia “berisik” tersebut. Kiai Andrian menjawab, “Banyak orang mau menyantrikan anaknya karena ada drum bandnya.”

Daya tarik. Mungkin begitu ungkapan agak tepat untuk menggambarkan bingarnya pesantren-pesantren menggarap dan “memodali” unit marching atau drum bandnya. Daar el-Qolam bahkan tercatat teramat yang paling loyal mendukung unit musik ini. Konon, KH Endin Syahiduddin, rela berhutang milyaran rupiah untuk membelikan santri asuhannya unit marching band terbaru dan termodern. Darunnajah bahkan telah jauh lebih maju karena memiliki kompetisi DMC (Darunnajah Marching Band Competition) yang kini telah menjadi agenda resmi pemerintah, melalui GPMB.

Apa menariknya musik berbiaya mahal dan memboroskan tenaga ini? Sulit melacak keseragaman alasan pesantren-pesantren memilih marching atau drum band sebagai aktivitas unggulan mereka.Alasan umumnya, ingin memberdaykan sarana syiar pesantren dan dakwah Islam, melalui media “sekuler”. Tapi, patut dipertanyakan, apakah “pelarian ini bukan merupakan potret “keputus-asaan” pesantren, khususnya pesantren modern, yang hingga kini -secara lembaga- masih kurang mampu berperan efektif dalam dakwah praktis?

Anggaplah, kaderisasi dai dan mundzirul qaum misi pesantren telah sukses. Namun secara lembaga, banyak dari pesantren-pesantren itu seperti terasing dari lingkungan dakwah terdekat mereka, yaitu masyarakat sekitar.

Marching atau drum band, semakin lama semakin menjadi tren yang sepertinya “wajib” dimiliki pesantren, agar masyarakat tertarik menyekolahkan anaknya di sana. Kualitas pendidikan pun seperti dinomor duakan. Bahkan ada rumor, karena sangat perhatiannya pihak pesantren kepada unit musik bergeraknya ini, ada yang begitu menganak emaskan kru dan santri anggota unit musik itu. Istilahnya, “Semua anak marching/drum band harus naik kelas.” Betapapun bodohnya anak itu.

Pengutamaan ini ada bolehnya. Karena memang jasa para santri dan pelajar itu yang luar biasa kepada lembaga mereka. Mereka rela berlelah latihan, berjemur, berjalan berkilo-kilometer mengisi event-event di luar pesantren, membawa nama lembaganya. Bahkan kebanyakan, mereka juga yang dibebani biaya “hiasan” diri, mulai dari iuran anggota, perlengkapan latihan, hingga kostum unit.

Secara edukatif, fenomena ironi ini patut menjadi perhatian. Alih-alih ingin “masuk surga” karena giat berdakwah melalui marching/drum band, tapi malah amanah pendidikan intelektual, ilmiah dan spiritual anak didik diabaikan.

Maka, jangan ada lagi penganak-emasan siapapun di lingkungan pesantren. Betapaun ia berjasa membantu syiar lembaga. Karena amanah risalah dakwah pesantren bukan hanya berinti pada marching/drum band, tapi titipan masyarakat agar santri mampu menjadi bibit unggul dakwah Islam di berbagai bidang harus dikedepankan.

Maju terus musik berjalan pesantren. Tapi ingat khittah pendidikan dan kaderisasimu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s