Tampar Diri Massal

Sore hari menjelang malam. Saat senja kian kelam mengganti terang, serombongan remaja berkaus tangan putih, seragam hijau bergaris kuning emas, celana putih dan sepatu boot putih, berjalan gontai.

Mereka lelah, penat dan bete. Sudah hampir seharian mereka berada di luar ruangan, berlatih, berpeluh bekerja keras memanggul beban puluhan kilogram instrumen marching band di pundak mereka.

Para mujahid penyeru syiar Pondok Pesantren Daar El-Qolam ini baru menyelesaikan “duty” mereka, mengisi apel rutin penurunan bendera di Gedung Sate Bandung. Kantor Bupati Jawa Barat yang sedemikian megah itu, tak memberi kecerahan mereka seusai pentas. Pasalnya, penampilan mereka amburadul total.

Entah apa penyebabnya hingga kampiun display segala kelas ini tampil tidak percaya diri. Padahal mereka jagonya segala event, dari kelas nasional hingga kelas kampung berjalan becek berlumpur pernah mereka ambil “job”nya.

Walhasil, pelatih marah besar. Semua dikumpulkan di tanah lapang, dibreefing dan dimarahi habis-habisan. Karena mereka adalah tim, maka kesalahan perorangan menjadi tanggungan tim. Lebih-lebih kesalahan jamaah. Habislah mereka! Sungguh tulus jerih mereka, harus berbalas hukuman.

Dengan tegas, Pak Pono Banoe sang Pelatih, memerintahkan agar remaja-remaja itu menampar mukanya sendiri sekencang-kencangnya. Sebagai pertanggunganjawab “kebodohan” mereka tampil amburadul. Bukan takut atau kecil hati, mereka rela menampar diri sendiri sekencang-kencangnya.

“Plak, plak, plak!” Tangan-tangan mungil yang rata-rata masih terbungkus sarung tangan putih itu harus melayangkan anggota tubuhnya ke badan sendiri.

Walau terbilang tak sakit, karena ada beberapa anak yang diam-diam sayang body gak mau menyakiti diri sendiri, tapi sungguh, itu pelajaran sangat besar dan berarti. Betapa sebuah “dosa” harus mendapat hukuman setimpal. Minimal “malu” kepada diri sendiri.

Self responsibility, istilah bulenya. Man ya’mal syarran, yalqa syarran, kata ustadz fikih.

Mang enak dah cape2 tapi harus menghukum diri sendiri🙂 Jangan nakal lagi yach anak-anak!

6 responses to “Tampar Diri Massal

  1. Berarti itu kesalahan bersama kan? bukan krena individu. .?

  2. itu yang gw ga seneng..yang kudunye tanggungjawab tuch mayorete..coz dia yang nyruh-nyuruh rubah haluan ke kanan ke kiri, tau-taunya kita yang disalahin tul ga coy………

  3. keputusan yang bijaksana dan luar biasa yang diambil pak pono, untuk menampar muka (pipi) kita masing2 ini berkat kesalahan kita, seharusnya mah pa ponolah yang mengeksekusi (menampar) kita semua…

  4. sakit tau brooo!

  5. Daripada lo tamparin pipi sendiri, mending gue yang tamparin deh … aheuaheuhe. Mau lage? Sini maju …. cup-cup-cup … pleeeeeng🙂

  6. pasti lo cari yg bening2 deh ky’ gw!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s